Selasa, 28 Oktober 2008

Hipertensi di Usia Senja

Semakin tua usia orang akan semakin rentan terkena penyakit. Sebuah hasil penelitian terbaru dari Amerika Serikat menyebutkan, orang tua lebih mudah terkena hipertensi. Bahkan, di Amerika, 70 persen lebih orang berusia 80 tahun terkena penyakit tekanan darah tinggi.

Dipimpin oleh Dr Daniel Levy dari American Medical Association, penelitian melibatkan orang dari kelompok umur yang berbeda-beda. Hasilnya, 74 persen partisipan dengan usia 80 atau lebihmenderita tekanan darah tinggi. Pada kelompok usia 60-79 tahun, persentasenya lebih kecil,63 persen, yang menderita hipertensi, dan pada orang yang kurang dari 60 tahun hanya 27 persen. Orang disebut menderita tekanan darah tinggi jika tekanan darahnya mencapai 140 mm hg. Sedangkan ukuran normal tekanan darah adakah 120-80 mm hg.

Penyakit hipertensi cukup berbahaya karena bisa mendorong serangan jantung dan stroke. "Itu bisa dihindari dengan hidup sehat dan tetap aktiv diusia tua," kata Levy.

Sunat Kurangi Penularan AIDS

Menurut penelitian beberapa ahli sunat dapat mengurangi penularan AIDS akibat aktivitas seksual. Inilah hasil penelitian yang dilakukan di Rio de Janeiro . Prevalensi Hiv dan AIDS sangat rendah dimasyarakat yang secara tradisional mempraktekkan sunat dibandingkan dengan masyarakat yang tidak mempraktekkannya,"kata Bertrand Auvert dari France's National Agency for AIDS Research.

Penelitian melibatkan lebih dari 3000 pria sehat berusia 18-24 tahun di Privinsi Guateng, Afruka Selatan, sebuah wilayah yang 32 % penduduk usia dewasanya terinveksi HIV. Hasilnya, 65% pria di kalangan yang disunat atau disirkumsisi terhindar dari penyakit yang menular itu.

Beberapa yang telah disunat saat penelitian dimulai, dan sebagian lagi disirkumsisi setelah penelitian berlangsung selama 21 bulan. Pada akhir masa penelitian, ditemukan 69 kasus inveksi HIV. Penderita dari kalangan yang telah disunat cukup kecil, hanya 18 orang."ini menunjukkan bahwa sirkumsisi bisa mencegah enam atau tujuh orang dari setiap 10 kemungkinan penularan,"kata Auvert.

Menurut Auvert, penis yang tidak disunat memiliki kemungkinanlebih beresiko menularkan AIDS. Karena lipatan kulit yang lembap jadi tempat yang nyaman bagi virus HIV untuk bertahan dan bereproduksi. Hanya hasil penelitian ini belum final. Masih perlu banyak penelitian lain untuk membuktikannya, termasuk dua penelitian serupa yang dilakukan di Uganda dan Kenya.

Minggu, 26 Oktober 2008

Limbah Rumah Sakit Belum Dikelola dengan Baik

Limbah rumah sakit, khususnya limbah medis yang infeksius, belum dikelola dengan baik. Sebagian besar pengelolaan limbah infeksius disamakan dengan limbah medis noninfeksius. Selain itu, kerap bercampur limbah medis dan nonmedis. Percampuran tersebut justru memperbesar permasalahan limbah medis.

Kepala Pusat Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia Dr Setyo Sarwanto DEA mengutarakan hal itu kepada Pembaruan, Kamis pekan lalu, di Jakarta. Ia mengatakan, rata-rata pengelolaan limbah medis di rumah sakit belum dilakukan dengan benar. Limbah medis memerlukan pengelolaan khusus yang berbeda dengan limbah nonmedis. Yang termasuk limbah medis adalah limbah infeksius, limbah radiologi, limbah sitotoksis, dan limbah laboratorium.

Limbah infeksius misalnya jaringan tubuh yang terinfeksi kuman. Limbah jenis itu seharusnya dibakar, bukan dikubur, apalagi dibuang ke septic tank. Pasalnya, tangki pembuangan seperti itu di Indonesia sebagian besar tidak memenuhi syarat sebagai tempat pembuangan limbah. Ironisnya, malah sebagian besar limbah rumah sakit dibuang ke tangki pembuang-an seperti itu.

Septic tank yang benar, ujar Setyo, terdiri atas dua bidang. Pertama, sebagai penampung, dan kedua sebagai tempat penguraian limbah. Setelah limbah terurai, disalurkan melalui pipa ke tanah yang di dalamnya berisi pasir dan kerikil. Tujuannya agar aman terhadap lingkungan.

Kenyataannya, banyak tangki pembuangan sebagai tempat pembuangan limbah yang tidak memenuhi syarat. IHal itu akan menyebabkan pencemaran, khususnya pada air tanah yang banyak dipergunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. Setyo menyebutkan, buruknya pengelolaan limbah rumah sakit karena pengelolaan limbah belum menjadi syarat akreditasi rumah sakit. Sedangkan peraturan proses pembungkusan limbah padat yang diterbitkan Departemen Kesehatan pada 1992 pun sebagian besar tidak dijalankan dengan benar.


Bercampur
Berdasarkan peraturan itu, limbah nonmedis dibungkus dengan plastik berwarna hitam, sementara limbah medis dibungkus dengan plastik berwarna seperti kuning, merah. Tetapi, karena harga plastik pun mahal, sudah tidak ada lagi pembedaan kemasan limbah rumah sakit, sehingga limbah medis pun bercampur dengan limbah nonmedis. Limbah nonmedis diperlakukan sama dengan limbah padat lainnya. Artinya, dikelola Dinas Kesehatan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah seperti di Bantar Gebang Bekasi.

"Percampuran limbah itu membuat sering ditemukan limbah medis di TPA, seperti botol infus, jarum suntik. Bagi pemulung plastik limbah medis, itu dianggap bisa didaur ulang, sehingga mereka mengumpulkan alat suntik itu. Sedangkan hewan di sekitar itu, misalnya kucing memakan limbah medis yang mengandung berbagai kuman yang akan berisiko pada manusia bila kucing tersebut menggigit. Itu membuat masalah limbah medis semakin besar," katanya. Ia menjelaskan, untuk limbah medis yang infeksius, berupa cairan, seharusnya dibakar dengan insinerator yang benar. Artinya, insinerator menggunakan suhu lebih dari 1.200 derajat Celsius, dan dilengkapi dengan pengisap pencemar/gas berbahaya yang muncul dari hasil pembakaran.

Abu dari hasil pembakaran distabilkan agar unsur logam dalam bentuk partikel yang terdapat pada abu tidak menjadi bahan toksik/karsinogen. Dengan perkataan lain, limbah infeksius diberlakukan sebagai limbah bahahan berbahaya (B3). Ia mencontohkan, tumor yang sudah diangkat dari pasien hendaknya dibakar dengan insinerator.

"Bukan dibakar dengan pembakaran biasa," ia menegaskan. Tetapi, pengelolaan abu dari pembakaran insinerator baru dapat dilakukan satu perusahaan swasta yang berlokasi di Cileungsi. Kondisi itu membuat permasalahan pengelolaan limbah medis infeksius di daerah. Untuk limbah radiologi, ujarnya, dilakukan oleh Badan Tenaga Atom Nasional (Batan). Setyo juga menjelaskan, dari sekitar 107 rumah sakit di Jakarta, baru sekitar 10 rumah sakit yang mempunyai insinerator, dan itu pun tidak semuanya insinerator yang benar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Departemen Kesehatan pada 1997 pernah melakukan survei pengelolaan limbah di 88 rumah sakit di luar Kota Jakarta. Berdasarkan kriteria WHO, pengelolaan limbah rumah sakit yang baik bila persentase limbah medis 15 persen. Tetapi, di Indonesia mencapai 23,3 persen. Survei juga menemukan rumah sakit yang memisahkan limbah 80,7 persen, melakukan pewadahan 20,5 persen, pengangkutan 72,7 persen. Sedangkan pengelolaan limbah dengan insinerator untuk limbah infeksius 62 persen, limbah toksik 51,1 persen, limbah radioaktif di Batan 37 persen. (N-4)

MINUMAN ISOTONIK

Banyaknya iklan mengenai minuman isotonik kadang membuat masyarakat bingung dengan produk ini, "sebenarnya apa sih kandungan, fungsi dan manfaat minuman ini?". Pada dasarnya yang kita ketahui mengkonsumsi air putih saja sudah cukup, namun pada keadaan tertentu ternyata minum air putih saja tidaklah cukup.

Bagi yang melakukan kegiatan berat seperti olahraga, bekerja kasar seperti kuli dan kantoran sekalipun, dan iklim yang panas menyebabkan seseorang mengalami penurunan stamina, baik itu haus ataupun dehidrasi, dan sebagai penggantinya kita membutuhkan asupan cairan yang bisa mengembalikan tubuh kita menjadi bugar kembali. Dan untuk mengembalikan cairan tubuh tersebut kita membutuhkan minuman yang mengandung isotonik.

Adapun kandungan isotnik itu adalah 98% air dan 2%nya adalah ion-ion penting untuk tubuh seperti kalium, Fosfat, magnesium sitrat, Natrium Klorida, dan Kalium Laktat. Menurut Dr Rafles menjelaskan bahwa isotonik adalah minuman yang memiliki komponen-komponen yang sama dengan kadar plasma darah. Kandungannya merupakan bahan-bahan yang dibutuhkan tubuh, berupa Kalsium, Natrium, dan Magnesium. Kandungan ini tidak boleh sampai berkurang dalam tubuh, sehinggaharus dipenuhi. Dan kadar pemenuhannya pun jangan sampai lepas dari batas yang ditentukan. Terutama orang-orang yang beraktifitas, misalnya setelah berolahraga.

Minuman isotonik memiliki kandungan yang mudah diserap oleh tubuh. Sifatnya cepat membuat perut menjadi kosong dan memiliki daya serap yang tinggi dalam usus, dan fungsi utama minuman ini adalah untuk menggantikan ion-ion tubuh yang hilang atau memenuhi kekurangan cairan tubuh, berfungsi seperti oralit untuk penderita diare, mengganti energi yang terkuras, berfungsi seperti pengganti invus untuk penderita demam atau muntah-muntah, untuk mengatasi sariawan dan panas dalam.

Minuman isotonik ini bagus digunakan bagi orang-orang yang berada dalam iklim panas, orang yang melakukan pekerjaan berat dan berkeringat,atlit yang selalu melakukan latihan, penderita diare, demam dan muntah-muntah. minuman isotonik ini sangat efektif bagi yang memburuhkan.

Sebenarnya makanan yang kita konsumsi sehari-hari sudah cukup untuk menggantikan Natrium dan klorida yang keluar bersama keringat.seperti halnya garam sudah terkandung dalam masakan yang kita konsumsi, itu sudah cukup menggantikan garam yang keluar dari tubuh, bahkan berlebih. tapi itu bila dalam kondisi normal